RATU SIKUMBANG
Jumat, 10 Agustus 2012
Selasa, 07 Agustus 2012
Cinta Dan Air Mata
Aku masih belum bisa mempercayainya. Mendengar kisah cintanya yang begitu memilukan, sekaligus ironis.
Ditengah keasikanku berselancar dalam lautan aksara, tiba-tiba seorang wanita datang, duduk didepanku dan berkata, “Gue masih cinta sama dia.”

Ya Tuhan, aku hanya bisa menghela nafas panjang mendengarnya. Mengapa? Ya, karena aku tahu betul bagaimana kisah percintaannya dengan lelaki -maaf- brengsek itu.
Aku rasa tidak berlebihan jika aku mengatakan demikian, karena lelaki itu memang benar-benar bajingan.
Bagaimana tidak demikian, lelaki dengan rambut ikal, wajah kusam, pakaian kumal, dan juga kulit legam melakukan pemanfaatan yang tidak berperikemanusiaan terhadap Diana, teman wanitaku.
Lelaki itu tahu, bahwa Diana begitu mencintainya dan aku tidak tahu mengapa bisa begitu?
Diana adalah teman baikku semasa di SMA. Kami berpisah setelah kuliah. Diana mengambil broadcast di London School, dan sedangkan aku kuliah di UIN Jakarta mengambil jurusan Perbankan Syari’ah.
Diana adalah putri sematawayang dari keluarga yang cukup terpandang. Kedua orangtuanya bekerja. Pak Muliawan adalah seorang PNS di Departemen Keuangan, dan Bu Salma adalah seorang dokter ternama yang wajahnya kerap muncul di televisi mengisi rubrik kesehatan.
Diana termasuk gadis yang pintar, tapi entahlah mengapa untuk masalah memilih pasangan aku rasa ia masih perlu banyak belajar.
“Kok bisa sih Na? kan jelas-jelas dia udah ngehianatin lu,” kataku kesal, “Lu juga udah liat kan dengan mata lu sendiri, kalau dia jalan sama cewek lain.”
“Ya, tapi setelah gw pikir-pikir, nggak ada salahnya kalau dia mau jalan sama cewe lain, dia kan punya hak untuk berteman dengan siapa aja, Mar.”
“Iya. Terus untuk masalah BBM-BBM mesra, foto-foto dia sama cewe, gimana? lu juga udah lihat kan?”
Diana mengangguk pelan membenarkan.
“Lalu apa lagi, Diana?”
“Gue masih cinta dan apakah itu salah?”
“Cinta? kok bisa sih. Dia juga udah kasar kan sama lu?”
Aku jadi teringat kejadian beberapa waktu lalu. Saat Bu Salma dengan paniknya menelponku, mengabarkan kalau Diana pulang dengan wajah lebam di pelipis kanannya.
“Lu kenapa, Na?”
“Nggak apa-apa kok, ini cuma kepeleset aja dijalan.”
“Separah itu?”
“Ya.”
Jujur saja aku tidak mempercayainya, dan benar saja, beberapa waktu kemudian Diana bercerita bahwa luka itu adalah hasil perbuatan dari lelaki bangsat itu. Aku langsung tersulut api kemarahan yang kian menjadi. Kesabaranku sudah hampir memuncak, namun Diana melarangku untuk tidak berbuat kasar pada kekasihnya.
“Tapi lu udah dikasarin kayak gini, Na? dengan alasan yang sepele pula. Ini udah gila! kalau perlu, kita lapor polisi. Ini penganiayaan, Na!”
“Sudahlah, Mar. Lukanya kan bisa sembuh.”
“Tapi luka dihati lu?”
Diana diam sejenak, dan berujar, “Gue ikhlas kok, Mar. Menerima semua perlakuan dia. Mungkin memang gue yang salah. Kurang ini itu ke dia.”
“Ya ampun, Na. Lu itu nggak kurang apa-apa. Justru dia yang kurang, KURANG AJAR sama lu.”
“Sudah, Mar. Gue nggak apa-apa. Dan gue jujur, gue nggak bisa ngikutin saran lu untuk ninggalin dia.”
“Kenapa, Na?” tanyaku kesal, “Lu itu cantik, cerdas, baik hati, dan keluarga terpandang pula, lu itu nyaris sempurna, Na. Kenapa harus memilih dia? Lu bahkan bisa mendapatkan yang jauh 1000 kali lipat dari lelaki busuk itu.”
“Gue sudah terlanjur cinta, Mar.”
“Ah, cinta? Bulshiiit!”
“Please, Mar. Gue butuh pengertian lu sebagai sahabat gue.”
“Gue ngertiin lu, Diana. Tapi justru lu sendiri yang nggak memahami diri lu. Menjalani cinta dengannya itu bukanlah keputusan yang benar.”
“Lu tahu dari mana, keputusan yang gue buat ini nggak benar? lu punya pacar aja nggak.”
“Bukan begitu, Na. Tapi coba lu lihat dengan mata hati lu. Apakah pantas lelaki kasar dan pengeretan macam dia itu mendapatkan cinta tulus lu? gue rasa nggak.”
Diana kembali terdiam cukup lama dan bangkit dari duduknya.
“Na…”
“Ya?”
“Cinta itu adalah kesucian, kasih sayang. Dan cinta tidak seharusnya mematahkan logika.”
“Thanks.”
Diana berlalu tanpa menoleh kepadaku lagi.

Sejak hari itu Diana menghilang. Keluarga, teman, dan aku semua mencarinya. Handphone tidak bisa dihubungi. Dewo, lelaki bangsat itu pun aku hampiri ke kosannya, dan dia tidak tahu menahui mengenai menghilangnya Diana.
Sampai akhirnya di pagi buta, datang kabar mengejutkan dari pihak kepolisian Jakarta Pusat yang mengabarkan telah ditemukan sesosok mayat perempuan dengan identitas yang sama dengan identitas teman baikku yang menghilang tiga hari lamanya, Diana Purnamasari.
Semua langsung memburu ketempat kejadian perkara dan semua langsung terkejut seketika melihat Diana sudah terbujur kaku dengan leher tergantung diatas pohon mahoni Taman kota.

Bu Salma langsung menjerit histeris dan pingsan. Beberapa teman lainnya yang juga datang menatap tak percaya ke jenazah diana yang mulai diturunkan. Aku sendiri terdiam dalam kesedihan yang menggila. Meneteskan airmata dengan deras dan sambil mengutuki, siapa yang melakukan semua ini?
Jenazah Diana langsung dimakamkan hari itu juga. Bumi menerimanya dengan dingin. Angin sore berhembus menggigit persendianku yang membeku. Aku terpasung pada kenyataan pahit yang harus aku temui, bahwa Diana sudah tidak ada lagi. Diana sudah pergi dengan membawa luka di hatinya.
“Ini tas milik korban. Kami temukan di dekat pohon tempat almarhumah meninggal,” ujar Pak Setyo, polisi yang membantu mengevakuasi jenazah diana.
“Terimakasih, Pak.”
Sesampainya dirumah Diana usai pemakaman. Aku buka isi tas itu. Kutemukan binder biru miliknya. Kubuka halaman demi halaman, catatan demi catatan ku baca sampai di lembaran kesekian, aku terkejut dengan sebuah tulisan, ”Ya Tuhan, ampuni hamba-Mu ini. Kami melakukannya lagi.”
WHAT? apa maksud semua ini?
Aku teruskan membaca dengan seksama.
“Tuhan, dokter Kartini sudah memberikan hasil lab kemarin. Dan ternyata, aku positif hamil. Bagaimana ini, Tuhan? aku bingung harus berbuat apa? Haruskah aku mengabarkan ke Papa Mama? Ah… tapi rasanya itu tidak mungkin. Papa Mama pasti akan kecewa berat. ya Tuhan, berikan aku jalan…”
“Tuhan, hari ini Dewo memukuliku habis-habisan ketika aku mengabarkan kabar bahagia itu. Aku ikhlas menerimanya. Biarkan ia memukuli, walaupun aku sakit. Semua gara2 dia memintaku untuk menggugurkan kandungan ini, tapi aku menolaknya. Aku tidak mungkin bisa. Ini adalah buah dan bukti cinta dari hubungan kami berdua. Biarlah jika Dewo tak mau menerimanya, biar aku yang menanggungnya sendiri.”
“Hari ini aku melihat Dewo memasukan wanita lain ke dalam kamar kos-kosannya. Kupikir, wanita itu mungkin akan bernasib sama denganku, dihamili, lalu di tinggal pergi.”
“Tuhan, aku tidak sanggup lagi… aku ingin mati!”
“Tuhan, ijinkan aku bertemu dengan-Mu hari ini.”
Itu tulisan terakhir dari Diary milik Diana. Aku tutup dengan hati yang basah.
Diana, mengapa kau pergi dengan begitu cepatnya. Dengan cara yang tidak disukai Tuhan.
Oh Diana, kami akan selalu merindukanmu. Semoga Tuhan mengampuni kesalahanmu. Do’a tak putus kami panjatkan untukmu, sayang.
Aku tutup pintu kamar Diana dan meninggalkan buku itu diatas tempat tidurnya. Membiarkan kisah cinta diana yang penuh luka dan airmata itu tersembuhkan dan mengering dengan sendirinya.

Diana, cintamu penuh dgn ketulusan, tetapi si BANGSAT itu membalasnya dgn JAHANNAM!
Aku berdo’a, semoga Tuhan memberikan balasan yang setimpal untuk orang yang telah merusak hidup Diana sampai sedemikian.
Ditengah keasikanku berselancar dalam lautan aksara, tiba-tiba seorang wanita datang, duduk didepanku dan berkata, “Gue masih cinta sama dia.”
Ya Tuhan, aku hanya bisa menghela nafas panjang mendengarnya. Mengapa? Ya, karena aku tahu betul bagaimana kisah percintaannya dengan lelaki -maaf- brengsek itu.
Aku rasa tidak berlebihan jika aku mengatakan demikian, karena lelaki itu memang benar-benar bajingan.
Bagaimana tidak demikian, lelaki dengan rambut ikal, wajah kusam, pakaian kumal, dan juga kulit legam melakukan pemanfaatan yang tidak berperikemanusiaan terhadap Diana, teman wanitaku.
Lelaki itu tahu, bahwa Diana begitu mencintainya dan aku tidak tahu mengapa bisa begitu?
Diana adalah teman baikku semasa di SMA. Kami berpisah setelah kuliah. Diana mengambil broadcast di London School, dan sedangkan aku kuliah di UIN Jakarta mengambil jurusan Perbankan Syari’ah.
Diana adalah putri sematawayang dari keluarga yang cukup terpandang. Kedua orangtuanya bekerja. Pak Muliawan adalah seorang PNS di Departemen Keuangan, dan Bu Salma adalah seorang dokter ternama yang wajahnya kerap muncul di televisi mengisi rubrik kesehatan.
Diana termasuk gadis yang pintar, tapi entahlah mengapa untuk masalah memilih pasangan aku rasa ia masih perlu banyak belajar.
“Kok bisa sih Na? kan jelas-jelas dia udah ngehianatin lu,” kataku kesal, “Lu juga udah liat kan dengan mata lu sendiri, kalau dia jalan sama cewek lain.”
“Ya, tapi setelah gw pikir-pikir, nggak ada salahnya kalau dia mau jalan sama cewe lain, dia kan punya hak untuk berteman dengan siapa aja, Mar.”
“Iya. Terus untuk masalah BBM-BBM mesra, foto-foto dia sama cewe, gimana? lu juga udah lihat kan?”
Diana mengangguk pelan membenarkan.
“Lalu apa lagi, Diana?”
“Gue masih cinta dan apakah itu salah?”
“Cinta? kok bisa sih. Dia juga udah kasar kan sama lu?”
Aku jadi teringat kejadian beberapa waktu lalu. Saat Bu Salma dengan paniknya menelponku, mengabarkan kalau Diana pulang dengan wajah lebam di pelipis kanannya.
“Lu kenapa, Na?”
“Nggak apa-apa kok, ini cuma kepeleset aja dijalan.”
“Separah itu?”
“Ya.”
Jujur saja aku tidak mempercayainya, dan benar saja, beberapa waktu kemudian Diana bercerita bahwa luka itu adalah hasil perbuatan dari lelaki bangsat itu. Aku langsung tersulut api kemarahan yang kian menjadi. Kesabaranku sudah hampir memuncak, namun Diana melarangku untuk tidak berbuat kasar pada kekasihnya.
“Tapi lu udah dikasarin kayak gini, Na? dengan alasan yang sepele pula. Ini udah gila! kalau perlu, kita lapor polisi. Ini penganiayaan, Na!”
“Sudahlah, Mar. Lukanya kan bisa sembuh.”
“Tapi luka dihati lu?”
Diana diam sejenak, dan berujar, “Gue ikhlas kok, Mar. Menerima semua perlakuan dia. Mungkin memang gue yang salah. Kurang ini itu ke dia.”
“Ya ampun, Na. Lu itu nggak kurang apa-apa. Justru dia yang kurang, KURANG AJAR sama lu.”
“Sudah, Mar. Gue nggak apa-apa. Dan gue jujur, gue nggak bisa ngikutin saran lu untuk ninggalin dia.”
“Kenapa, Na?” tanyaku kesal, “Lu itu cantik, cerdas, baik hati, dan keluarga terpandang pula, lu itu nyaris sempurna, Na. Kenapa harus memilih dia? Lu bahkan bisa mendapatkan yang jauh 1000 kali lipat dari lelaki busuk itu.”
“Gue sudah terlanjur cinta, Mar.”
“Ah, cinta? Bulshiiit!”
“Please, Mar. Gue butuh pengertian lu sebagai sahabat gue.”
“Gue ngertiin lu, Diana. Tapi justru lu sendiri yang nggak memahami diri lu. Menjalani cinta dengannya itu bukanlah keputusan yang benar.”
“Lu tahu dari mana, keputusan yang gue buat ini nggak benar? lu punya pacar aja nggak.”
“Bukan begitu, Na. Tapi coba lu lihat dengan mata hati lu. Apakah pantas lelaki kasar dan pengeretan macam dia itu mendapatkan cinta tulus lu? gue rasa nggak.”
Diana kembali terdiam cukup lama dan bangkit dari duduknya.
“Na…”
“Ya?”
“Cinta itu adalah kesucian, kasih sayang. Dan cinta tidak seharusnya mematahkan logika.”
“Thanks.”
Diana berlalu tanpa menoleh kepadaku lagi.
Sejak hari itu Diana menghilang. Keluarga, teman, dan aku semua mencarinya. Handphone tidak bisa dihubungi. Dewo, lelaki bangsat itu pun aku hampiri ke kosannya, dan dia tidak tahu menahui mengenai menghilangnya Diana.
Sampai akhirnya di pagi buta, datang kabar mengejutkan dari pihak kepolisian Jakarta Pusat yang mengabarkan telah ditemukan sesosok mayat perempuan dengan identitas yang sama dengan identitas teman baikku yang menghilang tiga hari lamanya, Diana Purnamasari.
Semua langsung memburu ketempat kejadian perkara dan semua langsung terkejut seketika melihat Diana sudah terbujur kaku dengan leher tergantung diatas pohon mahoni Taman kota.
Bu Salma langsung menjerit histeris dan pingsan. Beberapa teman lainnya yang juga datang menatap tak percaya ke jenazah diana yang mulai diturunkan. Aku sendiri terdiam dalam kesedihan yang menggila. Meneteskan airmata dengan deras dan sambil mengutuki, siapa yang melakukan semua ini?
Jenazah Diana langsung dimakamkan hari itu juga. Bumi menerimanya dengan dingin. Angin sore berhembus menggigit persendianku yang membeku. Aku terpasung pada kenyataan pahit yang harus aku temui, bahwa Diana sudah tidak ada lagi. Diana sudah pergi dengan membawa luka di hatinya.
“Ini tas milik korban. Kami temukan di dekat pohon tempat almarhumah meninggal,” ujar Pak Setyo, polisi yang membantu mengevakuasi jenazah diana.
“Terimakasih, Pak.”
Sesampainya dirumah Diana usai pemakaman. Aku buka isi tas itu. Kutemukan binder biru miliknya. Kubuka halaman demi halaman, catatan demi catatan ku baca sampai di lembaran kesekian, aku terkejut dengan sebuah tulisan, ”Ya Tuhan, ampuni hamba-Mu ini. Kami melakukannya lagi.”
WHAT? apa maksud semua ini?
Aku teruskan membaca dengan seksama.
“Tuhan, dokter Kartini sudah memberikan hasil lab kemarin. Dan ternyata, aku positif hamil. Bagaimana ini, Tuhan? aku bingung harus berbuat apa? Haruskah aku mengabarkan ke Papa Mama? Ah… tapi rasanya itu tidak mungkin. Papa Mama pasti akan kecewa berat. ya Tuhan, berikan aku jalan…”
“Tuhan, hari ini Dewo memukuliku habis-habisan ketika aku mengabarkan kabar bahagia itu. Aku ikhlas menerimanya. Biarkan ia memukuli, walaupun aku sakit. Semua gara2 dia memintaku untuk menggugurkan kandungan ini, tapi aku menolaknya. Aku tidak mungkin bisa. Ini adalah buah dan bukti cinta dari hubungan kami berdua. Biarlah jika Dewo tak mau menerimanya, biar aku yang menanggungnya sendiri.”
“Hari ini aku melihat Dewo memasukan wanita lain ke dalam kamar kos-kosannya. Kupikir, wanita itu mungkin akan bernasib sama denganku, dihamili, lalu di tinggal pergi.”
“Tuhan, aku tidak sanggup lagi… aku ingin mati!”
“Tuhan, ijinkan aku bertemu dengan-Mu hari ini.”
Itu tulisan terakhir dari Diary milik Diana. Aku tutup dengan hati yang basah.
Diana, mengapa kau pergi dengan begitu cepatnya. Dengan cara yang tidak disukai Tuhan.
Oh Diana, kami akan selalu merindukanmu. Semoga Tuhan mengampuni kesalahanmu. Do’a tak putus kami panjatkan untukmu, sayang.
Aku tutup pintu kamar Diana dan meninggalkan buku itu diatas tempat tidurnya. Membiarkan kisah cinta diana yang penuh luka dan airmata itu tersembuhkan dan mengering dengan sendirinya.
Diana, cintamu penuh dgn ketulusan, tetapi si BANGSAT itu membalasnya dgn JAHANNAM!
Aku berdo’a, semoga Tuhan memberikan balasan yang setimpal untuk orang yang telah merusak hidup Diana sampai sedemikian.
-Sekian-
Tips Untuk Menjalani Sebuah Hubungan
“Maaf yha, bukannya saya tidak menghormati permintaan ikhwan. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga ikhwat menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.”
Sulit, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para lelaki? Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik khitbah kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci ikat bertepuk sebelah tangan.
Ya drama kehidupan menuju mahligai pelaminan memang beragam. Ada yang menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh duri, bahkan ada yang putus ditengah perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai pernikahan.
Ini bukan saja dialami oleh akhwat,ikhwan pun bisa mengalaminya.Bedanya, para ikhwan mengalami secara langsung karena posisi mereka sebagai subyek atau pelaku aktif dalam proses melamar. Sehingga getirnya kegagalan cinta seandainya memang terasa getir langsung terasa. Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman tersembunyi karena mereka umumnya berposisi pasif, menunggu pinangan. Tapi manakala sang akhwat yang didamba memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.
Ikhwan dan Akhwat rahimakumullah, siapapun berhak kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa’ (naluri mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa.
Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat tertolak, bukannya tanpa hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan manusia, bahkan akan meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata bisa kecewa? Karena berarti kita adalah manusia seutuhnya.
Kegagalan meraih cinta juga bukan pertanda bencana. Tapi akan memberikan pelajaran beharga pada manusia. Seorang filsuf bernama John Charles Salak mengatakan : Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu mereka yang berfikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan dan tak penah memikirkannya.
Karenanya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru awal dari segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada benarnya; ambillah pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri. Tentu saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT. Agar kegagalan mengkhitbah tidak menjadi petaka, maka ikhwan dan akhwat persiapkanlah diri sebaik-baiknya.ada beberapa langkah yang bisa diambil:
1. Percayai qadla
Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua keinginannya selalu terpenuhi. Padahal ditolak adalah salah satu bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup itu adakaanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dsb. Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi ‘alaqah kemudian menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan diperintahkannya dengan empat kata dan dikatakan padanya: tulislah amalnya, rizkinya dan ajalnya.” (HR.Bukhari)
Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada kita. Yakinilah skenario Allah tengah berlangsung, dan jadilah penyimak yang baik dengan penuh sangka yang baik padaNya. Tanamkan dalam diri kita ‘Allah Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya’ . Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita kepadaNya. Apalagi dengan terus menanamkan prasangka buruk padaNya. Segerahlah sadar bahwa ini adalah ujian dari Allah . akankah kita menerima qadla-Nya atau merutuknya?
Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan InsyaAllah akan memperkuat keyakinan kita bahwa Allah sayang pada kita. Demikian sayangnya, sampai-sampai Allah tidak rela menjodohkan kita dengan si fulan yang kita sangka sebagai pelabuhan cinta kita.
2. Bersiap untuk cinta dan bahagia
Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan membahagiakan ukhti, demikian ungkapan keinginan para ikhwan terhadap akhwat yang akan mereka lamar. Puluhan, mungkin ratusan angan-angan kita siapkan seandainya si dia menerima pinangan cinta kita. Kita begitu siap untuk berbahagia dan membahagiakan orang lain. Sama seperti banyak orang yang ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak orang.Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa kecewa. Dan ketika impian itu berakhir kita seperti terhempas. Tidak percaya bahwa itu bisa terjadi, ada akhwat yang ‘berani’ menolak pinangan kita. Bila kurang waras, mungkin akan keluar ucapan, “berani-beraninya. .. atau apa yang kurang dari saya…..
Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita dan membuat diri menjadi tulul amal, panjang angan-angan. Sadarilah semakin tinggi angan membuai kita, semakin sakit manakala tak tergapai dan terjatuh. Ambillah sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi senang sekaligus kecewa. Sikap itu akan menjadi bufferl penyangga mental kita, apapun yang terjadi kelak.
Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang akhwat menolak khitbah kita atau sang ikhwan memilih ‘bunga’ yang lain, hati ini tidak akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan sikap lapang dada. Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada kita, hati ini akan bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan menjadi kenyataan.
“Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusannya seluruhnya baik dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka hal itu baik baginya, dan jika menderita kesusahan ia bersabar maka hal itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)
3. Bukan Aib
Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran sebagian ikhwan. Malu, kesal dan kecewa menjadi satu. Tapi itulah bentuk ‘perjuangan’ menuju pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu apakah sang pujaan menerima atau menolak kita, kecuali setelah mengajukan pinangan padanya. Manakala ditolak tidak usah malu, bukan cuma kita yang pernah ditolak, banyak ikhwan yang ‘senasib’ dan ‘sependeritaan’ . Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa terhina. Demikian pula saat banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar? Mengapa mesti malu.4. Kita mungkin takkan Bahagia’ jika dengan dia
Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan pada ikhwan yang tidak mencintai kita? Itu bukan sikap seorang muslim/muslimah yang baik. Tidak ada yang bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta maupun menolak cinta. Sebagaimana kita punya hak untuk mencintai dan melamar orang, maka ada pula hak yang diberikan agama pada orang lain untuk menolak pinangan kita. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga pun seorang suami dan istri diberikan hak oleh Allah SWT. Untuk membatalkan sebuah ikatan pernikahan. Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada kita? Bahkan dalam pernikahan ada pintu keluar ‘perceraian’? jawabannya adalah sangat mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah membangun rumah tangga, ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan ( al hanaah ) dari pasangannya, maka tiada guna mempertahankan sebuah bahtera rumah tangga bila kebahagiaan dan ketentraman tak dapat diraih. Wallahu’alam bi ash shawab
Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. ( Al-Baqarah[2] :229 ) . Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita memperoleh kebahagiaan bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang baik secara kasat mata, belum tentu berbuah kebaikan di kemudian hari. Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita idamkan begitu menggoda. Tapi bila ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan lagi? Allah Maha Pangatur, ia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan.
Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah menikah dengan orang lain bukan dengan si dia yang antum idamkan- niscaya antum takjub dengan kebahagiaan yang antum rasakan. Percayalah banyak orang yang telah merasakan hal demikian.
Saya tak mungkin berbahagia tanpanya.
ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus menerus dalam kekecewaan. Perasaan ini juga menghambat kita untuk mendapatkan kesempatan berbahagia dengan orang lain. Mereka yang terus menerus mengingat orang yang pernah menolaknya, dan masih terbius dengan angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka sendiri dan menutup peluang untuk bahagia. Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain yang sudah menjalani kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain membatalkan kebahagiaan kita. Diri kitalah yang bisa menciptakannya sendiri. Untuk itu tanamkan optimisme dan keyakinan terhadap qadla Allah SWT. Insya Allah, akan ada orang yang membahagiakan kita kelak
Cinta membutuhkan waktu
“maukah ukhti menjadi istri saya? Saya tunggu jawaban ukhti dalam waktu 1 X 24 jam!” Masya Allah, cinta bukanlah martabak telor yang bisa di tunggu waktu matangnya. Ia berproses, apalagi berbicara rumah tangga, pastinya banyak pertimbangan- pertimbangan yang harus dipikirkan. Ada unsur keluarga yang harus berperan. Selain juga ada pilihan-pilihan yang mungkin bisa diambil. Jadi harap dipahami bila kesempatan datangnya cinta itu menunggu waktu. Seorang akhwat yang akan dilamar –contoh extrim pada kasus diatas- bisa jadi tidak serta merta menjawab. Biarkanlah ia berpikir dengan jernih sampai akhirnya ia melahirkan keputusan. Jadi cara berpikir seperti di atas sebenarnya lebih cocok dimiliki anggota tim SWAT ketimbang orang yang berkhitbah.
Ideal bagus, Tapi realistik adalah sempurna
Suami yang saya dambakan adalah yang bertanggungjawab pada keluarga, giat berdakwah dan rajin beribadah, cerdas serta pengertian, penyayang, humoris, mapan dan juga tampan.” Itu mungkin suami dambaan Anda duhai Ukhti . tapi jangan marah bila saya katakan bahwa seandainya kriteria itu adalah harga mati yang tak tertawar, maka yang ukhti butuhkan bukanlah seorang ikhwan melainkan kitab-kitab pembinaan. Kenyataannya tidak ada satupun lelaki didunia ini yang bisa memenuhi semua keinginan kita. Ada yang mapan tapi kurang rupawan, ada yang rajin beribadah tapi kurang mapan, ada yang giat dakwah dakwah tapi selalu merasa benar sendiri, dsb. Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kriteria bagi calon suami/istri kita, lantas membuat kita mengubah prinsip menjadi ‘yang penting akhwat” atau “yang penting ikhwan”. Tapi realistislah, setiap menusia punya kekurangan – sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah adalah orang-orang yang berani menerima kekurangan pasangannya, bukan orang-orang yang sempurna. Tapi berpikir realistis terhadap orang yang akan melamar kita, atau yang akan kita lamar, adalah kesempurnaan. Maka doa kita kepada Allah bukanlah,”berikanlah padaku pasangan yang sempurna” tetapi “ya Allah, karuniakanlah padaku pasangan yang baik bagi agamaku dan duniaku.
Kekuatan Ruhiyah
Percaya diri itu harus, tapi overselfconfidence adalah kesalahan. Jangan terlalu percaya diri akhi bahwa lamaran antum diterima. Jangan juga terlalu yakin ukhti, bahwa sang pujaan akan datang ke rumah anti. Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada seorang pun yang tahu kapan dan dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta dan berjodohan tidak mengenal status dan identifikasi fisik. Bukan karena ukhti cantik maka para ikhwan menyukai ukhti. Juga bukan karena akhi seorang hamalatud da’wah lalu setiap akhwat mendambakannya. Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain menurut persepsi kita. Bukankah sering kita melihat seseorang yang menurut kita “luar biasa” berjodoh dengan yang ‘biasa-biasa’ . Seperti seringnya kita melihat pasangan yang ganteng dan cantik, populer tapi kemudian berpisah. Inilah rahasia cinta dan perjodohan, tidak bisa terukur dengan ukuran-ukuran manusia.
Maka landasilah rasa percaya diri kita dengan sikap tawakal kepada Allah. Kita berserah diri kepadaNya akan keputusan yang ia berikan. Jauhilah sikap takkabur dan sombong. Karena itu semua hanya akan membuat diri kita rendah dihadapan Allah dan orang lain. Intinya saya bermaksud mengatakan ‘jangan ke-ge-er-an’ dengan segala title dan atribut yang melekat pada diri kita.
Beri cinta kesempatan (lagi)
……….dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” ( QS. Yusuf[12]:87 )
Bersedih hati karena gagal bersanding dengan dambaan hati wajar adanya. Tapi bukan alasan untuk menyurutkan langkah berumah tangga. Dunia ini luas, demikian pula dengan orang-orang yang mencintai kita. Kegagalan cinta bukan berarti kita tidak berhak bahagia atau tidak bisa meraih kebahagiaan. Bila hari ini Allah belum mempertemukan kita dengan orang yang kita cintai, insyaAllah ia akan datang esok atau lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari kekuasaanNya cinta juga berproses. Ia membutuhkan waktu. Ia bisa datang dengan cepat tak terduga atau mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Ada orang yang dengan cepat berumah tangga, tapi ada pula yang merasakan segalanya berjalan lambat, namun tidak pernah ada kata terlambat untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan. Beri kesempatan diri kita untuk kembali merasakan kehangatan cinta. love is knocking outside the door.’
Kata musisi Tesla dalam senandung love will find a way. Tidak pernah ada kata menyerah untuk meraih kebahagiaan dalam naungan ridhoNya. Yang pokok, ikhwan atau akhwat yang kelak akan menjadi pasangan kita adalah mereka yang dirihoi agamanya.
“Jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata” (HR. Turmudzi)
“Wanita dinikahi karena satu dari tiga hal; dinikahi karena hartanya, dinikahi karena kecantikannya, dinikahi karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama dan akhlak (mulia) niscaya selamat dirimu.” (HR.Ahmad)
sumber: http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2007/12/22/bila-cinta-tak-berbalas.
Senin, 06 Agustus 2012
CINTA
Apa arti kata cinta
Dalam phrase romantisme, kata "Cinta" di jabar-luaskan menjadi berjuta kata dan makna, dan maka muncul-lah berjuta puisi tentang cinta.Secara Rasio, cinta adalah bentuk emosi kesukaan terhadap sesuatu yang sifatnya lebih halus dan dalam , yang bila bentuk emosi/kesukaan itu lebih kasar maka di sebut "nafsu" atau "ambisi" . beda antara cinta dan napsu adalah ibarat beda-nya orang marah dan mengamuk, tersenyum-tertawa , kejam-biadab ,kasar-brutal, keinginan-ambisi .
Sebagai motivasi hidup akan kita definisikan cinta sebagai "percikan kasih Illahi dalam hati setiap insani"
Cinta dalam hidup manusia adalah sebuah "kata" untuk meng-komunikasikan suatu kesukaan, cinta yang murni dan abadi hanya milik Tuhan, karena hanya Tuhan yang memiliki kesempurnaan . Tuhan telah menciptakan, memelihara, memberikan rahmat yang tiada habisnya ke seluruh alam semesta, tanpa perlu membuat "rangkaian kata cinta".
www.tentang saya.com
Nama lengkap:Rahmad Ari Rivaldo
Twitter: @Ariebhebel
Yahoo! Messenger: ariechopue
Alamat: Tapan,pesisir selatan.sumatera barat
Jenis Kelamin: Laki-laki
Tanggal Lahir: 27 juli 1994
Kota Sekarang: Padang,Indonesia
Kota Asal: Tapan
Agama: islam
Aktivitas : menjalankan perintah ALLAH SWT,Ngdrum,kuliah.
Olahraga: basket ball and football
Klub favorit:San antonio Spurs,chelsea Fc
Musik: Ungu,My chemical Romance,Alessana,Ungu,Jamrud,saintloco
Kutipan: I am not A perfect person
Bio: Sbar,,Ramahbaik,,setia dan bertanggung jawab
silahkan anda nilai sndri
Pendidikan dan Pekerjaan :
SD N 20 Tj.pondok.Tapan
Perusahaan: arbhel collections
Jabatan:manager
Masa Kerja: November 2009 smpai sekarang
cukup sekian saya memperkenalkan diri,semoga dapat menjadikan persahabatan di antara kita semakin dekat.
dan semoga blog ini bermnfaat bagi kita semua...
amiieennn....
TAK KENAL MAKA TAK SAYANG
Twitter: @Ariebhebel
Yahoo! Messenger: ariechopue
Alamat: Tapan,pesisir selatan.sumatera barat
Jenis Kelamin: Laki-laki
Tanggal Lahir: 27 juli 1994
Kota Sekarang: Padang,Indonesia
Kota Asal: Tapan
Agama: islam
Aktivitas : menjalankan perintah ALLAH SWT,Ngdrum,kuliah.
Olahraga: basket ball and football
Klub favorit:San antonio Spurs,chelsea Fc
Musik: Ungu,My chemical Romance,Alessana,Ungu,Jamrud,saintloco
Kutipan: I am not A perfect person
Bio: Sbar,,Ramahbaik,,setia dan bertanggung jawab
silahkan anda nilai sndri
Pendidikan dan Pekerjaan :
SD N 20 Tj.pondok.Tapan
Perusahaan: arbhel collections
Jabatan:manager
Masa Kerja: November 2009 smpai sekarang
cukup sekian saya memperkenalkan diri,semoga dapat menjadikan persahabatan di antara kita semakin dekat.
dan semoga blog ini bermnfaat bagi kita semua...
amiieennn....
TAK KENAL MAKA TAK SAYANG
Langganan:
Postingan (Atom)



























